Terhubung dengan kami

Bisnis

Teka-teki 5G Eropa: Benua yang Tertinggal di Jalur Lambat

SAHAM:

Diterbitkan

on

In the grand narrative of technological progress, 5G was supposed to be the milestone that would propel Europe into a new era of connectivity and innovation. However, as the world races forward, Europe finds itself increasingly lagging behind in the global 5G race. Nowhere is this more evident than in the heart of the European Union itself – Brussels, along with several other European capitals, remains glaringly devoid of the promised 5G signal. In this exposé, we delve into the reasons behind Europe’s faltering 5G rollout, exploring the stakeholders involved, the systemic issues plaguing the continent, and the path forward towards rectifying this critical technological deficit.

Janji yang Tidak Terpenuhi: Benua Tertinggal dalam Debu Digital

Ketika teknologi 5G pertama kali muncul, hal ini menandai era baru konektivitas ultra-cepat, latensi rendah, dan kemungkinan inovasi tanpa batas. Para pemimpin Eropa menyambut baik janji 5G dengan penuh semangat, dan menyebutnya sebagai kekuatan transformatif yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi, meningkatkan layanan publik, dan membawa Eropa ke garis depan revolusi digital.

Namun, ketika negara-negara lain semakin maju dengan penerapan 5G, Eropa tersendat.

Brussel, ibu kota de facto Uni Eropa, merupakan lambang kegagalan ini. Meskipun menjadi pusat birokrasi Uni Eropa, Brussel mendapati dirinya berada dalam zona mati teknologi, tanpa konektivitas 5G yang sudah tersebar luas di kota-kota metropolitan global lainnya.

But Brussels is not alone in its 5G woes. From Berlin to Paris, Rome to Madrid, European capitals find themselves grappling with the conspicuous absence of 5G signals. This deficiency not only undermines Europe’s competitiveness on the global stage but also raises pressing questions about the continent’s ability to harness emerging technologies for the benefit of its citizens.

The Blame Game: Mengidentifikasi Pelakunya

In the search for culpability, fingers point in myriad directions, implicating a constellation of actors in Europe’s 5G debacle.

Rintangan Regulasi:

Kerangka peraturan Eropa, yang terkenal dengan kompleksitas dan kelembaman birokrasinya, telah menghambat penyebaran infrastruktur 5G secara cepat. Proses perizinan yang panjang, prosedur perizinan yang berbelit-belit, dan peraturan nasional yang berbeda telah menciptakan labirin yang menghambat investasi dan menghambat kemajuan.

iklan

Kemacetan Politik:

The fragmented nature of European governance, characterized by competing national interests and divergent policy priorities, has further impeded the continent’s 5G rollout. Disagreements over spectrum allocation, infrastructure sharing, and data privacy regulations have ensnared policymakers in a quagmire of indecision, delaying critical decisions and exacerbating the digital divide.

Inersia Industri:

Europe’s telecommunications industry, dominated by incumbent players reluctant to embrace disruptive change, has also played a pivotal role in hindering 5G deployment. Legacy infrastructure, vested interests, and risk aversion have rendered European telecom giants sluggish in their adoption of next-generation technologies, relegating Europe to the sidelines of the global 5G race.

Tantangan Teknologi:

The sheer scale and complexity of deploying 5G infrastructure across vast and diverse European landscapes pose formidable technological challenges. From urban congestion to rural isolation, Europe’s diverse topography presents a myriad of obstacles that demand innovative solutions and substantial investment.

Kelambanan Pemerintah:

National governments across Europe share culpability for the continent’s 5G shortcomings. Failure to prioritize 5G deployment, allocate sufficient resources, and streamline regulatory processes have hindered progress and perpetuated the digital divide.

European Commission’s Role:

The European Commission, as the executive branch of the European Union, bears a significant responsibility for Europe’s faltering 5G rollout. Despite recognizing the strategic importance of 5G technology, the Commission’s efforts to coordinate and harmonize 5G deployment across member states have fallen short. Bureaucratic inertia, regulatory fragmentation, and a lack of cohesive strategy have undermined the Commission’s ability to catalyze meaningful progress and drive Europe towards a unified 5G future.

Charting a Course Forward: Navigating Europe’s 5G Quagmire

Addressing Europe’s 5G deficit requires a concerted and multifaceted approach that transcends national borders and partisan divides. Here are several key steps that policymakers, industry leaders, and stakeholders must take to steer Europe out of its 5G quagmire:

Memperkuat Kepemimpinan UE:

Komisi Eropa harus menegaskan kepemimpinan yang lebih kuat dalam mendorong penerapan 5G di seluruh negara anggota. Dengan mengoordinasikan strategi nasional, menyelaraskan kerangka peraturan, dan memanfaatkan dana Uni Eropa, Komisi Eropa dapat mempercepat peluncuran infrastruktur 5G dan mendorong pasar tunggal digital yang lebih kompetitif dan kohesif.

Tetapkan Target dan Garis Waktu yang Jelas:

Menetapkan target dan jadwal yang jelas untuk penerapan 5G sangat penting untuk mendorong tindakan dan menjaga akuntabilitas negara-negara anggota. Komisi Eropa harus bekerja sama dengan pemerintah nasional untuk menetapkan tujuan cakupan 5G yang ambisius namun dapat dicapai, dengan fokus pada bidang-bidang prioritas seperti pusat kota, koridor transportasi, dan pusat industri.

Alokasikan Pendanaan dan Sumber Daya:

Berinvestasi dalam infrastruktur 5G adalah upaya mahal yang memerlukan sumber daya keuangan besar. Komisi Eropa harus mengalokasikan pendanaan dari anggaran UE, serta memobilisasi investasi swasta melalui mekanisme pembiayaan inovatif seperti kemitraan publik-swasta dan dana modal ventura, untuk mendukung penerapan jaringan 5G di seluruh Eropa.

Menumbuhkan Kolaborasi dan Berbagi Pengetahuan:

Memfasilitasi kolaborasi dan berbagi pengetahuan di antara negara-negara anggota, pemangku kepentingan industri, dan lembaga penelitian sangat penting untuk mengatasi hambatan teknis dan peraturan dalam penerapan 5G. Komisi Eropa harus membangun platform untuk bertukar praktik terbaik, mendorong interoperabilitas, dan mendorong inovasi dalam teknologi dan aplikasi 5G.

Mendorong Penerapan yang Inklusif dan Berkelanjutan:

Memastikan penerapan 5G bersifat inklusif dan berkelanjutan sangat penting untuk menjembatani kesenjangan digital dan memaksimalkan manfaat sosial dari teknologi 5G. Komisi Eropa harus memprioritaskan investasi di daerah-daerah yang kurang terlayani dan pedesaan, serta mempromosikan solusi infrastruktur 5G yang ramah lingkungan dan hemat energi, untuk memastikan tidak ada yang tertinggal dalam transformasi digital di Eropa.

Ketika Eropa berada di persimpangan era digital, kebutuhan untuk memperbaiki defisit 5G menjadi semakin mendesak. Waktu untuk berpuas diri dan tidak bertindak sudah berakhir – Eropa harus mengambil kendali atas nasib teknologinya dan memetakan arah yang berani menuju masa depan yang ditentukan oleh konektivitas, inovasi, dan peluang. Dengan menganut prinsip kolaborasi, inovasi, dan inklusivitas, Eropa dapat memperoleh kembali posisinya sebagai pemimpin global dalam revolusi digital dan mengantarkan era baru kemakmuran bagi generasi mendatang. Pertanyaannya adalah apakah Eropa akan mampu menghadapi tantangan ini atau malah tertinggal dalam era digital?

The answer lies in the action which should be taken today, with the European Commission playing a pivotal role in shaping Europe’s 5G future.

In Europe’s capital, blindingly fast and unlimited 5G signal should, at the very least, be able to be accessed in the bars, restaurants and hotels of Place Luxembourg, and on the streets around the Schuman area outside the Council, Commission, EEAS and other institutions, as well as every other European city. 5G is now an essential tool for all politicians, researchers, assistants, functionaries, journalists, lobbyists and boulevardiers.

Agar UE dapat berfungsi sebaik-baiknya, UE memerlukan cakupan 5G penuh.

Saat ini, Eropa memiliki telekomunikasi seluler kelas tiga yang mampu mengimbangi lemahnya Komisi Eropa.

Bagikan artikel ini:

EU Reporter menerbitkan artikel dari berbagai sumber luar yang mengungkapkan berbagai sudut pandang. Posisi yang diambil dalam artikel ini belum tentu milik Reporter UE.

Tren