Terhubung dengan kami

Pemeriksaan fakta

Memperjuangkan Kemanusiaan Muslim untuk Melihat Invasi Rusia di Komunitas Muda Muslim Indonesia-Malaysia 

SAHAM:

Diterbitkan

on

Invasi Rusia ke Ukraina telah menghasilkan tanggapan luas dari berbagai komunitas di seluruh dunia. Di Indonesia, kami mengidentifikasi 6,280 tweets untuk mendukung Rusia pada awal invasi 2022. Sedangkan penelitian lain menegaskan bahwa netizen Malaysia memproduksi 1,142 tweet pro-Rusia dan lusinan postingan Facebook.

Berdasarkan data di atas, pengguna media sosial Indonesia dan Malaysia tampak terganggu dari membahas dampak destruktif dari invasi tersebut dan malah fokus pada sifat dangkal dari konten yang mereka konsumsi. Akibatnya, penonton rentan terpapar konten yang mengalihkan perhatian mereka dari realitas perang ke sudut pandang pelaku.

Penelitian kami menemukan bahwa pengguna media sosial mengartikulasikan narasi Islam untuk mengekspresikan dukungan mereka terhadap invasi tersebut. Untuk menyelidiki gagasan ini lebih lanjut, kami melakukan Focus Group Discussion (FGD) dengan mahasiswa dari dua Universitas Islam di Indonesia dan Malaysia. Kami kemudian mengumpulkan temuannya dengan survei online data yang didistribusikan ke khalayak yang lebih luas di kedua wilayah. Mengingat media sosial berpotensi terdistorsi oleh kebisingan sosial, diperlukan analisis silang antara data digital dan tradisional.

Meskipun komunitas Muslim Indonesia-Malaysia memiliki nilai-nilai sosial yang sama, terdapat perbedaan mencolok mengenai persepsi mereka terhadap invasi Rusia. Temuan kami menunjukkan bahwa generasi muda Muslim Malaysia menyatakan dukungannya terhadap invasi Rusia terutama karena sentimen “anti-Barat”. Sementara itu, generasi muda Muslim Indonesia mengungkapkan kekagumannya atas keberanian Putin melancarkan perang.

Metodologi

Untuk memperoleh data tersebut, kami melakukan FGD dan survei online terhadap generasi muda Muslim di Indonesia dan Malaysia. FGD ini melibatkan mahasiswa Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum di Indonesia dan Universiti Sultan Zainal Abidin di Malaysia, keduanya memiliki tradisi panjang dalam memasukkan nilai-nilai Islam ke dalam pembelajaran. Dalam sesi ini, kami mengajukan pertanyaan kepada responden tentang persepsi mereka terhadap invasi Rusia ke Ukraina, yang dilanjutkan dengan diskusi sejawat yang dimoderatori mengenai topik tersebut. Pertanyaan-pertanyaan tersebut berfokus pada bagaimana mereka menggambarkan invasi Rusia ke Ukraina dan bagaimana mereka menggambarkan konten terkait yang mereka temui di media sosial.

iklan

Selanjutnya, kami melakukan survei online tunggal yang didistribusikan melalui koordinator sekolah Islam dan dikirimkan kepada 315 responden di seluruh Wilayah Jawa dan 69 responden dari Malaysia. Responden diperoleh secara random sampling kemudian dipilih berdasarkan kriteria tertentu antara lain rentang usia 15-40 tahun dan persyaratan telah menyelesaikan atau sedang menjalani pendidikan formal Islam. Para peserta diminta menjawab kombinasi 22 pertanyaan terbuka dan tertutup untuk survei tersebut, yang mencakup data kuantitatif dan kualitatif mengenai pendapat responden terhadap invasi Rusia. Setelah itu, data survei kualitatif dianalisis menggunakan alat analisis konten CAQDAS (Analisis Data Kualitatif Berbantuan Komputer), yang digunakan untuk mengelompokkan data survei ke dalam tema-tema yang berbeda.

Kekaguman Pemuda Muslim Indonesia terhadap Putin

Hasil survei mengungkapkan sebagian besar anak muda Muslim Indonesia tertarik dengan sosok Putin yang macho. Ketika survei tersebut mengajukan pertanyaan: 'Apakah Anda kenal Vladimir Putin?' jawaban dominan responden (76%) adalah “Ya”, dan sisanya responden menjawab “Tidak”. Responden kemudian ditanya, 'Apa yang Anda ketahui tentang Vladimir Putin?', dan jawaban yang paling umum adalah mereka mengagumi sifat kejantanan Putin, seperti keberaniannya berperang dan membela kepentingan Islam. Beberapa responden dalam sesi FGD juga mengakui pribadi Putin yang macho. Selain itu, pertanyaan 'Apakah menurut Anda Rusia adalah negara yang “keren”?' menghasilkan 53% responden menjawab “Ya”, 17% menjawab “Tidak”, dan 30% menyatakan “Tidak tahu”. Ketika diminta menjelaskan jawaban mereka, sebagian besar responden menganggap Rusia “keren” karena sikap Putin yang pro-Islam.

Mengenai pertanyaan 'Tahukah Anda tentang invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022?' 72% responden menjawab “Ya” dan 28% menjawab “Tidak”. Ketika ditanya apa yang mereka ketahui tentang invasi tersebut, mayoritas responden hanya berfokus pada NATO dan pertahanan Putin terhadap negaranya, dan sama sekali mengabaikan aspek kemanusiaan. Terakhir, kami menanyakan kepada responden apakah konten media sosial yang mereka konsumsi berisi cerita tentang Putin yang mendukung Islam, dan 69% responden mengaku pernah menemukan konten yang menggambarkan Rusia pro-Islam, yang mencerminkan penelitian kami sebelumnya.

Pemuda Muslim Malaysia dan Sentimen Anti-Baratnya

Komunitas Muslim Malaysia memiliki perspektif yang berbeda mengenai invasi Rusia dibandingkan komunitas Muslim Indonesia. Mereka memandang invasi Rusia terutama melalui lensa historis anti-Barat. Hal ini sejalan dengan apa yang kami amati pada sesi FGD. Membalas pertanyaan, 'Apakah Anda melihat konten yang berisi pesan bahwa Rusia/Putin mendukung Islam?' 20% responden menyatakan “Ya”, 42% menjawab “Tidak”, dan 38% menjawab “Tidak tahu”. Pertanyaan lainnya, 'Apakah menurut Anda Rusia/Putin adalah negara pro-Islam?' dijawab dengan 26% “Ya”, 46% “Tidak”, dan 28% “Tidak tahu”. Ketika diminta menjelaskan jawaban mereka, responden Malaysia mengatakan mereka cenderung mendukung Rusia karena sejarah kolonial Malaysia dengan Inggris. Jawaban-jawaban ini menyoroti perbedaan perspektif antara responden Malaysia dan Indonesia, karena perbedaan konten yang mereka konsumsi.

100% responden Malaysia menjawab “Ya” ketika ditanya 'Apakah Anda kenal Vladimir Putin?' Perbedaan antara kedua kelompok responden berlanjut ketika mendeskripsikan dirinya. Meskipun responden dari Indonesia mengungkapkan ketertarikan mereka terhadap kepribadian Putin yang macho, sebagian besar responden dari Malaysia memandang Putin hanya melalui perannya sebagai presiden. Ketika ditanya 'Apakah menurut Anda Rusia adalah negara yang “keren”?' 58% responden menjawab “Ya”, 18% menjawab “Tidak”, dan 24% menjawab “Tidak tahu”. Setelah menjelaskan lebih lanjut, sebagian besar responden menafsirkan “keren” dalam kaitannya dengan budaya dan kekuatan militer Rusia yang kuat, dan beberapa menyebutkan kepedulian Rusia terhadap kepentingan nasionalnya.

100% responden Malaysia juga menjawab “Ya” terkait pertanyaan 'Apakah Anda tahu tentang invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022?' Selain itu, responden juga percaya bahwa invasi tersebut disebabkan oleh pendekatan Barat terhadap Ukraina. Mereka juga berharap pemerintah Malaysia akan mendukung Rusia, sebagaimana negara-negara Barat mendukung Ukraina.

Analisis Silang Hasil Survei

Kami mengamati pola serupa dalam tanggapan mengenai konsumsi media sosial di antara kedua kelompok responden. Respons yang paling banyak diterima adalah mereka mengakses media sosial hingga lima jam per hari, dengan TikTok dan Instagram sebagai platform paling populer. Mereka juga menyatakan bahwa media sosial adalah sumber informasi utama mereka tentang invasi Rusia. Berdasarkan data yang dikumpulkan, 100% responden Malaysia dan 72% responden Indonesia mengaku pernah menemukan konten media sosial tentang invasi Rusia. Responden Indonesia mengaku lebih banyak menemukan cerita yang berpusat pada Putin, sedangkan responden Malaysia menyatakan bahwa mereka pernah melihat konten yang menyalahkan negara Barat. Terlepas dari perbedaan tersebut, responden Indonesia dan Malaysia mengatakan Rusia adalah negara pro-Islam.

Ada kemungkinan adanya hubungan antara cara komunitas ini mengonsumsi konten media sosial dan masih adanya sentimen anti-Barat. Semakin banyak waktu yang dihabiskan untuk mengakses media sosial, semakin tinggi pula risiko terpapar konten terkait propaganda. Responden Malaysia yang menghabiskan minimal empat jam di media sosial cenderung memandang Rusia sebagai negara yang dingin dan anti-Barat. Sementara itu, responden Indonesia lebih rentan terhadap gangguan informasi.

Memperjuangkan Kemanusiaan

Di era dimana informasi digital mendominasi, komunitas Muslim harus menunjukkan ketahanan informasi. Ini berarti mengidentifikasi propaganda dan memisahkan fakta dari disinformasi. Karena ikatan solidaritasnya yang kuat, komunitas Muslim lebih dari itu rentan untuk propaganda media sosial, khususnya pada topik Jihad. Kegagalan membedakan propaganda dari kenyataan ajaran Islam dapat mengakibatkan terorisme.

Komunitas Muslim harus menanggapi perang dengan meninjau kembali ajaran Islam yang manusiawi, daripada terjerumus ke dalam propaganda media sosial. Umat ​​Islam harus memikirkan konsekuensinya bagi kemanusiaan sebelum membentuk opini mengenai topik tertentu. Para korban perang membutuhkan dukungan dan perlindungan terlepas dari latar belakang sejarah atau politik mereka. Ide-ide ini dapat menginspirasi generasi muda Muslim untuk membedakan antara fakta dan propaganda serta menerapkan ajaran Islam dalam menanggapi invasi Rusia.

kesimpulan dan rekomendasi

Penelitian di atas menunjukkan bagaimana persepsi komunitas Muslim Indonesia dan Malaysia terhadap invasi Rusia di media sosial. Meskipun terdapat kesamaan di antara komunitas-komunitas tersebut, responden Indonesia secara khusus berfokus pada kepribadian Putin yang macho. Di sisi lain, responden Malaysia cenderung menyatakan dukungannya terhadap Rusia berdasarkan gagasan anti-Barat. Oleh karena itu, kami mendesak komunitas Muslim di kedua negara untuk mengubah paradigma dari wacana media sosial ke diskusi yang lebih substansial. Memperjuangkan kemanusiaan adalah ciri penting ajaran Islam yang tidak boleh diabaikan.

Dalam situasi ini, dialog lintas negara antara komunitas Muslim dapat memastikan adanya respons terhadap perang mencerminkan nilai-nilai Islam. Dialog antar komunitas Islam, khususnya antara generasi muda Muslim di Indonesia dan Malaysia, sangat penting dalam menciptakan kesamaan pandangan dalam memandang urusan internasional dan invasi Rusia ke Ukraina dengan menggunakan nilai-nilai Islam. Humanitarianisme adalah sebuah konsep universal yang sejalan dengan nilai-nilai Islam dan memungkinkan generasi muda Muslim Indonesia dan Malaysia untuk bercita-cita menuju penyelesaian konflik dan perdamaian di seluruh dunia.

Dias PS Mahayasa is dosen Studi Gender, Departemen Hubungan Internasional, Universitas Jenderal Soedirman, Indonesia. Ia juga menjabat sebagai Direktur Pusat Identitas dan Studi Perkotaan.

Bimantoro K. Pramono adalah dosen Diplomasi Digital di Departemen Hubungan Internasional, Universitas Paramadina, Indonesia. Beliau juga menjabat sebagai Peneliti Tamu di Data & Democracy Research Hub di Monash University, Indonesia.

Bagikan artikel ini:

EU Reporter menerbitkan artikel dari berbagai sumber luar yang mengungkapkan berbagai sudut pandang. Posisi yang diambil dalam artikel ini belum tentu milik Reporter UE.

Tren